Tuesday, May 25, 2010

TERJERAT KEJAHATAN SENDIRI

Kompas, 16 Januari 2010, memuat berita tentang pemalsu uang yang
tertangkap di Kuala Lumpur. Pria ini tertangkap setelah memberi tip
selembar uang 500 dolar AS (senilai 4,6 juta) pada pelayan hotel.
Pelayan hotel yang merasa beruntung segera menukarkan uang itu.
Akhirnya, si penukar uang segera memanggil polisi untuk menangkap
sang pemberi tip. Sebab, pecahan tertinggi dolar AS adalah 100,
bukan 500! Dari pria itu, polisi menemukan uang palsu senilai 66
juta dolar!

"Dosa orang jahat bagaikan perangkap yang menjerat orang itu
sendiri," demikian peringatan Amsal 5:22, dalam versi Bahasa
Indonesia Sehari-hari (BIS). Tak selamanya korban kejahatan adalah
orang lain. Ada saat di mana kejahatan menjerat pelakunya sendiri.
Mengapa? Karena dalam tindak kejahatan tersimpan benih penghancuran
diri pelakunya. Sejenak, pelaku kejahatan tampak kuat. Namun, benih
penghancuran itu akan tumbuh.

Haman adalah contoh nyata di Alkitab. Rasa bencinya pada bangsa
Yahudi menjadikannya jahat. Dan, ia menuai hasil kejahatannya. Ia
sendiri terperangkap. Semakin orang berbangga dengan kejahatannya,
semakin dekat ia dengan kehancurannya. Inilah yang menimpa sang
pemalsu uang di atas. Kejahatannya menghasilkan kebodohan yang
menghancurkan pelakunya sendiri.

Apakah kita sedang merancangkan hal jahat? Berhentilah sebelum
kejahatan itu menghancurkan diri sendiri. Memang ada saat-saat di
mana kejahatan seolah-olah tampil perkasa, menggoda kita terlibat di
dalamnya. Namun, kejahatan takkan bertahan selamanya, karena Allah
masih bertakhta. Maka, daripada merencanakan kejahatan, mari
berpihak pada kebenaran, yakni Allah sendiri --WAP

DI BALIK SETIAP TINDAKAN KEJAHATAN TERSIMPAN BENIH KEHANCURAN PELAKUNYA

No comments:

Post a Comment