Bagi para motivator atau pengajar di seminar-seminar pengembangan
diri, yang selalu menekankan pentingnya berpikir positif, bersikap
positif, dan berperasaan positif, Kitab Pengkhotbah bisa jadi
dianggap sebagai kitab yang "melemahkan". Betapa tidak, salah satu
kata yang paling kerap disebut dalam kitab ini adalah "sia-sia".
Judul-judul perikopnya juga seolah-olah menggambarkan kemuraman
hidup. Contohnya: "Segala sesuatu sia-sia", "Ketidakadilan dalam
hidup", "Kesia-siaan dalam hidup", "Kesia-siaan kekayaan", dan
"Nasib semua orang sama".
Ya, sekilas Pengkhotbah tampak sebagai kitab yang pesimistis.
Seumpama warna, bukan biru, merah, atau kuning cerah, tetapi abu-abu
gelap. Akan tetapi, benarkah demikian? Sebetulnya tidak juga. Sebab
yang hendak diungkapkan Pengkhotbah adalah kefanaan hidup di dunia
ini; bahwa dunia dan segala isinya akan berlalu. Penyadaran ini
tentu sangat penting, sebab banyak orang yang tanpa sadar ingin
hidup selama-lamanya di dunia ini; menumpuk kekayaan tanpa kenal
batas, mengejar ilmu tanpa kenal henti.
Bukan berarti itu semua tidak penting. Akan tetapi, ada yang jauh
lebih penting. Yakni "takutlah akan Allah dan berpeganglah pada
perintah-perintah-Nya" (ayat 13). Kekayaan dan pengetahuan di dunia
ini akan sia-sia belaka jika tidak diiringi oleh sikap takut akan
Allah dan terlepas dari perintah-perintah-Nya. Artinya bagi kita,
dalam kita bekerja mencari nafkah ataupun belajar menuntut ilmu,
baiklah kita melakukannya dengan sikap hormat terhadap Allah. Hanya
dengan demikian harta yang kita dapat dan pengetahuan yang kita
peroleh akan berarti --AYA
TANPA DISERTAI SIKAP HORMAT TERHADAP ALLAH
KEKAYAAN DAN PENGETAHUAN AKAN SIA-SIA
Renungan Harian 29 Mei 2010
No comments:
Post a Comment