Dalam keseharian hidup berlaku kebenaran: nama bukan sekadar nama,
melainkan ada "bobot" wibawanya. Para siswa yang sedang berkelahi
akan spontan berhenti ketika nama Pak Hadi, Kepala Sekolah, disebut-
sebut sedang mendekat ke arah mereka. Di bidang lain, konsumen juga
lebih percaya pada produk yang sudah punya nama. Nama artis yang
sedang "naik daun" identik dengan keuntungan besar di bisnis
hiburan. Kebaktian Kebangunan Rohani sesak pengunjung karena
dilayani oleh pengkhotbah ternama.
Ketika Yesus naik ke surga, ketika karya penebusan-Nya selesai, Dia
menerima kembali apa yang semula menjadi milik-Nya, yaitu nama-Nya
yang setara dengan Allah. Nama yang mulia_kemuliaan yang rela
ditanggalkan-Nya demi menyerupai kita, untuk menggenapi karya
penebusan. Nama dengan wibawa tertinggi, penuh kuasa. Nama yang
terindah. Yang menggetarkan seluruh alam dan segenap makhluk.
Menekuk setiap lutut untuk menyembah dan mengakui kedaulatan-Nya.
Nama di atas segala nama!
Sadarkah kita bahwa nama Tuhan sedahsyat dan semulia itu? Peringatan
kenaikan Tuhan membangkitkan kesadaran kita kembali. Kesadaran yang
membuat kita menyanyi memuliakan nama-Nya dengan lebih sungguh.
Membuat kita melayani dengan tidak menonjolkan nama dan diri
sendiri. Membuat kita tidak gentar akan nama-nama seram yang dekat
dengan kuasa gelap. Membuat kita tidak lupa bahwa sementara kita
bekerja, bergaul, dan berbicara, nama Yesus sedang kita pertaruhkan
di depan semua orang. Sebab, bukankah kita ini surat Kristus yang
terbuka, yang terbaca oleh orang-orang di sekitar kita? --PAD
TIDAK MUNGKIN MENGASIHI YESUS
TANPA MENGHORMATI DAN MEMULIAKAN NAMA-NYA
No comments:
Post a Comment