Tuesday, May 4, 2010

SELAGI MASIH HIDUP

Sodikin hanya bisa menangis tersedu-sedu mengiringi penurunan peti
jenazah ayahnya ke liang kubur. Satu hal yang sangat ia sesali,
selama ayahnya hidup ia kurang sekali memperhatikannya. Bahkan untuk
sekadar menemaninya ngobrol atau main catur, jarang sekali ia
lakukan. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan urusannya sendiri.
Tiga bulan lalu ia baru mengetahui ayahnya menderita sakit berat
hingga dirawat di rumah sakit sampai meninggalnya. Sekarang, apa
yang bisa ia lakukan untuk "menebus" kesalahannya? Tidak ada.
Ayahnya sudah terbujur kaku. Tidak ada kesempatan kedua.

Ya, kematian selalu berarti berakhirnya sebuah kesempatan. Sebuah
titik. Manusia, seperti yang digambarkan dalam bacaan Alkitab hari
ini, berbeda dengan pohon. Kalau sebuah pohon ditebang, ia punya
kesempatan untuk bertunas lagi (ayat 7). Pun, apabila pohon itu
akarnya menjadi tua dan tunggulnya mati, pada saatnya ia bisa
bersemi lagi (ayat 8). Akan tetapi manusia, begitu ia tiba pada
kematiannya, maka selesailah sudah hari-harinya di dunia ini (ayat
10). Tamat. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan terhadapnya.

Apa maknanya bagi kita? Salah satunya adalah: betapa pentingnya kita
menghargai, membahagiakan, dan mencurahkan kasih sayang kepada
orang-orang terdekat-entah kakek dan nenek kita, atau ayah dan ibu
kita, atau siapa pun-selama mereka masih hidup. Jangan menunda-
nunda. Sebab kalau mereka sudah terbujur kaku di dalam peti jenazah,
tidak ada yang bisa kita lakukan. Menangis sejadi-jadinya pun tiada
berguna, tidak mengembalikan kesempatan yang telah berlalu. Hanya
meninggalkan sebuah sesal --AYA

BAHAGIAKANLAH ORANG-ORANG YANG KITA CINTAI
SELAMA MEREKA MASIH HIDUP

No comments:

Post a Comment