Saturday, May 15, 2010

"GEMBALA DAN DOMBA"

Perbedaan kultur yang mencolok antara tradisi Yahudi dan Asia
membuat kita sulit memahami peran seorang gembala. Di Indonesia,
sudah lazim jika gembala berjalan di belakang domba-dombanya. Domba-
domba itu dibiarkan mencari makan sendiri. Gembala tak perlu pusing
dengan apa yang terjadi pada mereka. Jika ada bahaya, serangan
binatang buas misalnya, bukan domba yang lebih dulu melarikan diri,
melainkan justru gembalanya.

Ini sangat berbeda dengan para gembala Yahudi yang biasa memikul
tanggung jawab dan berdedikasi tinggi. Ia ada di depan domba-
dombanya, hingga waktu bahaya datang, si gembala yang menghadapinya
dulu. Lihat kisah Daud saat menjadi gembala. Ia gembala yang
berdedikasi tinggi, hingga tiap saat ia harus berhadapan dengan
beruang, singa, atau binatang buas lain, demi melindungi domba-
dombanya.

Gambaran Yesus sebagai Gembala yang baik, harus kita pahami melalui
kacamata tradisi Yahudi. Ini bukan sekadar sebutan, tetapi Yesus
sudah benar-benar melakukannya. Dia bersedia mati demi menyelamatkan
kita, domba-domba-Nya. Harga yang begitu mahal Dia bayar demi
melindungi kita dari kematian kekal. Sebab itu, tak berlebihan jika
Tuhan Yesus kita sebut sebagai Gembala yang baik!

Sudah bisa dijamin, kita memiliki Gembala yang baik. Sekarang,
pertanyaan yang perlu kita jawab, "Apakah kita sudah menjadi domba
yang baik?" Jika kita adalah domba yang baik, tentu kita akan
mengenal suara Sang Gembala. Yakni taat dan menurut apa yang Dia mau
dalam hidup ini. Sangat tidak adil kalau kita hanya menuntut Tuhan
menjadi Gembala yang baik, sementara kita sebagai orang percaya
tidak pernah menjadi domba yang baik

No comments:

Post a Comment