Pengurus pendonoran darah ternyata cukup rumit. Ketika istri saya
memerlukan transfusi darah, empat teman menyediakan diri menjadi
donor. Yang pertama batal karena sedang sakit gigi. Yang kedua tidak
lolos karena berat badan tidak cukup. Yang lain harus mengisi dulu
sederet riwayat kesehatan, baru golongan darahnya dicocokkan.
Setelah darah diambil di PMI, dilakukan uji laboratorium untuk
memastikan darah dalam kondisi sehat. Sampai di rumah sakit, darah
masih diuji silang sebelum ditransfusikan. Semua itu demi kebaikan
dan keamanan si penerima. Ketika membawa dua kantong darah dari PMI
ke rumah sakit, saya berkata kepada teman yang memboncengkan saya,
"Kawan, kita ini membawa kehidupan."
Pengalaman itu menolong saya semakin menghargai nilai darah Kristus.
Yesus Kristus sungguh-sungguh telah mencurahkan darah-Nya di
Golgota. Darah-Nya itu sangat mahal, tidak mungkin dibeli dengan
emas atau perak. Darah-Nya tak bernoda dan tak bercacat, tak
tercemar oleh kuman, bakteri, atau virus, tetapi malah mendatangkan
penebusan dan penyelamatan. Syukurlah, darah yang tak terukur
harganya itu tersedia bagi semua orang berdosa dan cocok bagi setiap
orang yang menerima-Nya oleh iman. Dan, darah-Nya itu mendatangkan
kehidupan baru, kehidupan yang diwarnai oleh kekudusan dan takut
akan Tuhan.
Sebagai salah satu bentuk ungkapan rasa syukur, jika tubuh Anda
dalam kondisi bugar, kenapa tidak mendatangi PMI terdekat dan
mengajukan diri sebagai donor sukarela? Atau, jika karena alasan
tertentu Anda tak bisa menjadi donor, mungkin Anda bisa menjadi
penghubung dari orang-orang yang membutuhkan darah --ARS
DI SALIB ALLAH MEMBUNGKUS HATI-NYA DALAM DAGING DAN DARAH
DAN MEMBIARKAN-NYA DIPAKU BAGI PENEBUSAN KITA_E. Stanley Jones
No comments:
Post a Comment