Hidup beriman saya tuh datar-datar saja. Tidak ada yang istimewa.
Sangat biasa. Oleh karena itu, saya ingin sekali mengalami mukjizat.
Biar saya bisa merasakan kuasa Tuhan yang nyata, dan sungguh-sungguh
mengalami kehadiran-Nya," begitu seorang pemuda pernah berkata.
Rupanya di benak pemuda itu, yang namanya "mengalami Tuhan" mesti
melalui kejadian spektakuler; hal-hal di luar jangkauan akal. Bisa
jadi tidak sedikit pula orang yang beranggapan seperti itu.
Padahal tidak selalu demikian. Betul, Tuhan bisa menyatakan diri
melalui peristiwa yang menakjubkan. Namun, kenyataan menunjukkan, Dia
lebih kerap menyatakan diri melalui peristiwa biasa, dalam kejadian
sehari-hari; entah udara segar yang kita hirup, hamparan pemandangan
yang indah, kicau burung yang merdu di pepohonan, atau juga tawa
riang gembira anak-anak yang tengah bermain.
Hari ini kita membaca pengalaman Elia di Gunung Horeb, ketika ia
melarikan diri dari Ratu Izebel. Ia sangat ketakutan dan putus asa.
Tuhan lalu berfirman supaya Elia keluar dari gua tempat
persembunyiannya (ayat 11). Awalnya datang angin besar dan kuat;
membelah gunung, memecah bukit batu. Namun, tidak ada Tuhan di sana.
Lalu datang gempa dan api, juga tidak ada Tuhan di sana. Kemudian
datanglah angin sepoi-sepoi basa. Dan Elia merasakan kehadiran Tuhan
(ayat 12,13).
Jadi sebetulnya, setiap hari pun kita dapat mengalami Tuhan;
merasakan kuasa-Nya, dan menikmati kehadiran-Nya. Asal kita mau
keluar dari "gua persembunyian" kita; dengan tidak membatasi kuasa
dan kehadiran-Nya sebatas yang inginkan -AYA
SETIAP SAAT, DALAM SETIAP PERISTIWA
KITA DAPAT MENGALAMI KUASA DAN KEHADIRAN TUHAN
No comments:
Post a Comment