Wednesday, March 3, 2010
MENILAI ULANG HARTA
Kita bisa membeli makanan, tetapi selera makan tidak bisa dibeli.
Tempat tidur bisa dibeli, tetapi tidur yang nyenyak tidak dijual.
Hiburan adalah sebuah industri, tetapi jangan berharap sukacita bisa
ditemukan di sana. Demikian juga dengan cinta, kebahagiaan,
persahabatan, dan kedamaian; tidak satu pun dari hal-hal ini bisa
dibeli dengan uang. Meskipun uang punya tempat dalam kehidupan
manusia, sebagian orang keliru ketika menempatkan uang sebagai pusat
kehidupan dan dasar utama mengambil keputusan.
Ini pula masalah si orang muda kaya. Menarik melihat kata "sebab"
dalam keterangan Matius, seolah kekayaan menjadi sumber kesedihan
dalam hidup orang ini (ayat 22). "Pergilah ia dengan sedih, sebab
banyak hartanya." Tidak semua orang yang bertemu Yesus diminta
menjual harta mereka. Misalnya, Zakheus dan Lewi tidaklah demikian.
Kalau begitu, mengapa Yesus meminta orang muda ini menjual hartanya?
Alasannya adalah karena kekayaan telah mengikatnya. Kekayaan menjadi
lebih penting dibandingkan dengan Tuhan dan sesamanya. Ia sudah
sedemikian mengasihi dan percaya pada kekuatan hartanya, sehingga
mengikat komitmennya pada harta tersebut. Ia tidak rela jika Tuhan
meminta seluruh hartanya. Ia juga tidak rela seluruh hartanya
diberikan kepada orang-orang miskin.
Tentu bukanlah sebuah dosa menjadi orang kaya. Namun, salah besar
kalau menggunakan kekayaan terutama buat diri sendiri. Orang
kristiani memang harus belajar untuk pandai mencari uang agar bisa
banyak memberi buat Tuhan dan sesamanya. Dunia memang tamak untuk
memiliki uang, tetapi biarlah anak Tuhan hanya "tamak" untuk
menghabiskan uang bagi Tuhan -DBS
JANGAN PERCAYA HARTA BISA MEMBELI SEGALANYA
PERCAYALAH BAHWA UNTUK TUHAN KITA BISA MEMBERI SEGALANYA
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment