Ndendeng (kedua huruf "e" dibaca seperti pada kata "materai", bukan
"bebek") adalah istilah bahasa Jawa yang kira-kira artinya keras
kepala, tidak bisa diberi tahu. Kata ini kerap dipakai untuk
menjuluki anak-anak yang nakal dan tidak mau menuruti nasihat
orangtua.
Namun, bukan cuma anak-anak yang bisa ndendeng. Banyak orang dewasa
di sepanjang zaman yang juga bersikap demikian terhadap Allah. Salah
satu contohnya digambarkan dalam bacaan Alkitab kita hari ini.
Dalam sejarah manusia, Tuhan berulang kali, dengan berbagai cara,
menyatakan diri-Nya, memanggil semua orang untuk bertobat. Dari cara
yang halus melalui ciptaan-Nya (Roma 1:19,20), firman-Nya (2 Raja-
Raja 17:13,14), sampai pada cara yang teramat keras, yaitu dengan
hukuman yang dahsyat (Wahyu 9:13-19). Namun, banyak dari mereka yang
bergeming. Mereka tetap mengeraskan hati dan menolak panggilan-Nya.
Apakah kita termasuk orang yang demikian? Apakah kita juga adalah
orang-orang yang bersikap keras kepala di hadapan Allah, meski
mengaku sebagai umat-Nya? Secara spesifik mungkin dengan menyimpan
suatu dosa dalam hidup kita, yang Allah ingin agar kita tinggalkan.
Dia sudah menyatakannya dengan berbagai cara. Melalui hati nurani
kita, firman-Nya di dalam Alkitab, teguran orang, atau melalui
peristiwa-peristiwa yang kita alami. Suara-Nya sedemikian jelas,
sehingga kita tahu benar apa yang Dia mau. Akan tetapi, kita terus
mengeraskan hati, tidak mau tunduk kepada-Nya. Apabila demikian
sikap kita, bertobatlah. Lunakkan hati dan ikuti perintah-Nya.
Jangan lagi menjadi seorang yang ndendeng kepada Allah --ALS
NDENDENG KEPADA ORANGTUA MEREPOTKAN
NDENDENG KEPADA ALLAH MEMATIKAN
Tanggal: Selasa, 13 April 2010
Bacaan : Roma 1:18-23, Wahyu 9:13-21
Setahun: 1 Samuel 22-24; Lukas 12:1-31
Nats: Tetapi manusia lain, yang tidak mati oleh malapetaka itu, tidak
juga bertobat dari perbuatan tangan mereka (Wahyu 9:20)
No comments:
Post a Comment