Saturday, October 16, 2010

Apa sih sebenarnya Kebahagiaan itu?

"The purpose of our lives is to be happy. Happiness is not something ready made. It comes from your own actions."- Dalai Lama

Berbicara tentang kebahagiaan, apakah Anda sudah benar-benar memahami arti dan maknanya? Kita banyak menggunakan kata-kata seperti bahagia, nikmat, senang, tawa, kepuasan dan lain sebagainya. Apa perbedaaannya? Nikmat, senang, tawa, rasa puas itu bisa dinyalakan dan dimatikan, tetapi kebahagiaan itu selalu ada – walaupun kita sedang merasakan emosi-emosi yang lain. Happiness is a condition of my being – it stays with me while I am experiencing emotions. Paradigma yang salah tentang kebahagiaan adalah paradigma “Saya akan bahagia ketika ”, seperti:
  • Saya akan bahagia ketika saya punya pengasilan lebih besar
  • Saya akan bahagia ketika saya tenar 
  • Saya akan bahagia ketika saya menemukan belahan jiwa
  • Saya akan bahagia ketika saya memiliki lebih banyak teman
  • Saya akan bahagia ketika saya lebih kurus 
  • Saya akan bahagia ketika saya tinggal di tempat lain
  • Dll.
Kita mengafilisiasikan kebahagiaan dengan hal-hal eksternal, sesuatu yang datang dari luar diri kita sendiri. Dalam bukunya ‘Happy for No Reason’, Marci Schimoff menjelaskan sebuah kontinuum kebahagiaan:

Jadi, ketika kita bahagia maka pikiran dan jiwa kita itu tenang. Bahwa kebahagiaan itu datang dari dalam diri kita dan bukan dari luar diri kita sendiri. Bahwa kita hidup bukan untuk kebahagiaan, tetapi hidup dari kebahagiaan. Ini mungkin sebabnya 94% masyarakat Indonesia itu memiliki depresi (baik ringan maupun berat), karena kita belum memahami dengan benar konsep dan arti dari kebahagiaan itu sendiri. Kita masih sangat bergantung dengan hal-hal eksternal untuk membuat kita bahagia.


Ketika kita sadar bahwa kebahagiaan itu datang dari dalam, maka kita memiliki kontrol dan tanggung jawab atas kebahagiaan kita sendiri. Belajar untuk memiliki rasa tanggung jawab untuk membuat diri kita sendiri bahagia menjadi sebuah aset dan kapasitas yang sangat besar nilainya baik untuk individu itu sendiri tetapi juga untuk organisasi tersebut. Bayangkan bagaimana kinerja perusahaan Anda ketika setiap orang dari staf Anda bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka sendiri dan kemudian menjadi staf-staf yang bahagia? Orang-orang yang ‘bahagia’ bukan orang-orang yang tidak memiliki masalah, tantangan maupun kesedihan, tetapi mereka memiliki cara pandang dan kebiasaan-kebiasaan tertentu yang membuat hal-hal tersebut mudah diatasi dan tidak mengganggu kualitas hidupnya. Ketika mewawancarai 100 orang yang ‘bahagia tanpa alasan apapun’, Marci Schimoff menemukan bahwa walaupun orang tersebut menghadapi kanker, anaknya yang baru dibunuh, suami yang memiliki ketergantungan minuman keras ataupun lumpuh pun bisa ‘bahagia’. Tidak hanya itu, merekapun sangat berkontribusi dan bermanfaat bagi lingkungannya. Inilah ketika mereka menjadi manusia-manusia yang paling produktif, karena mereka tidak hanya hanya ‘bahagia’ tetapi juga fokus kepada suatu tujuan.

Melayani = Menyebarkan Budaya Bahagia

“Our business is to be happy.” – Dalai Lama

Apa sih sebenarnya definisi melayani?

Oh, Anda bisa mencarinya di berbagai buku, situs internet dan mewawancarai berbagai pakar layanan.


Dan tentunya tidak ada definisi yang benar maupun salah. Ketika beberapa institusi atau orang masih mendefinisikannya dengan memberikan layanan yang terbaik untuk membuat pengalaman yang tak terlupakan sehingga seorang pelanggan itu puas, bukankah ini berarti bahwa layanan adalah bisnis atau usaha untuk membuat orang lain bahagia? Ketika melayani adalah membuat orang lain bahagia, coba lihat pertanyaan-pertanyaan berikut:  Adakah satu cara saja untuk membuat orang lain bahagia?  Bisakah sesuatu yang sangat sederhana, seperti sebuah senyum membuat orang lain bahagia?  Bisakah kita membuat orang lain bahagia ketika kita sendiri tidak bahagia?  Bisakah kita tulus ketika kita sendiri tidak bahagia? Di dalam dunia layanan, kita selalu mendengar ‘melayani dengan setulus hati’.

Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa mengajarkan seseorang untuk tulus?

Bagaimana mengajarkan atau mengharapkan seseorang untuk tersenyum tulus ketika hatinya sedang tidak tentram? Dan menurut Anda, bila tersenyum dengan tulus saja masih sulit, mampukah Ia mendengarkan orang lain, mengatasi masalah, membuat solusi, menjadi kreatif dan membuat orang lain puas dan senang?

Tetapi, ketika seseorang itu hatinya tenang dan tentram, bukankah otomatis Ia akan tersenyum dengan tulus, jauh lebih antusias dalam melakukan pekerjaan apapun dan kreatif dalam memecahkan masalah?

Seperti kata Dalai Lama, “Bisnis kita adalah untuk menjadi bahagia.”


Melayani saat ini bukan saja sekedar ketrampilan dan pengetahuan tentang bagaimana melayani, seperti senyum, sapa dan salam saja. Tetapi, melayani adalah komitmen untuk menjadikan diri sendiri bahagia terlebih dahulu dan kemudian menyebarkannya kepada lingkungan dan dunia. Baru setelah itu, berbagai ketrampilan dan pengetahuan bisa dipupuk dengan lebih efektif dan efisien. Komitmen ini yaitu menjadikan ‘bahagia’ sebagai kebiasaan atau gaya hidup kita sehari-hari, menjadikannya budaya. Karena ‘bahagia’ seperti ‘layanan’ adalah sebuah sikap dan ketrampilan hidup; ketika kita tidak mengaplikasikannya setiap hari dan menjadikannya kebiasaaan dan budaya dalam aktifitas sehari-hari, maka tidak bisa menggantikan kebiasaan-kebiasaan lama kita yang tidak mendukung kualitas hidup yang terbaik.

Di Synergy, definisi melayani yang kami sebarkan adalah “bermanfaat untuk orang lain” – dimana seseorang hanya bisa mulai ‘bermanfaat bagi orang lain’ maupun lingkungannya ketika:
(i) Ia bahagia
(ii) Ia memiliki arah/tujuan mulia yang jelas (a sense of purpose).
Kombinasi ini adalah dimana seseorang menjadi sangat produktif. Karena, bila seseorang hanya bahagia tetapi tanpa arah, maka Ia akan menjadi puas dengan diri sendiri (complacent) dan tidak akan bergerak kemana-mana ataupun lebih cepat.

Dan kebalikannya, bila memiliki arah/tujuan tetapi saat ini tidak bahagia, maka Ia akan memakan waktu yang lama untuk mencapai tujuan tersebut. Zappos sudah menjadi bukti yang terbaik untuk hal ini. Zappos, sebuah perusahaan yang memiliki komitmen sangat tinggi terhadap layanan dan telah melewati berbagai tantangan dengan sukses pun mengatakannya dengan sangat baik dalam buku yang dituliskan oleh CEO-nya Tony Hsieh, yaitu
Delivering Happiness: A Path to Profits, Passion, and Purpose ...”


Anda bisa melihat dan merasakan sendiri budaya perusahaan dan keluarganya yang sangat ‘bahagia’ ini dari blognya di http://blogs.zappos.com/blogs/zappos-family dimana tagline-nya adalah “Blog, Fun & A Little Weird”. Mereka benar-benar membuat orang lain ingin menjadi bagian dari ‘keluarga’ tersebut.




No comments:

Post a Comment